14 February 2005
masa ini
musim ini ternyata belum berpihak padaku. sebuah musim penuh pengharapan, atau mungkin impian yang belum terpikirkan sebelumnya. kemarin aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi membahas tentang hati, tapi hantaman-hantaman gelombang ini secara tidak sadar membantaiku sampai berkeping.
aku telah salah menilai masa. penilaianku tentang sebuah masa, mungkin sangat tidak umum. padahal bila aku melihat segala sisi dengan tenang, semuanya telah tergambar dengan jelas, dan sekarangpun aku tidak yakin kembali tentang semua ini. tentang segala arah dan tujuan. ataukah aku sudah memburamkan seluruh ceritaku dengan kegalauan dan geliat kegelisahanku?.
hari ini aku kembali kecewa, ketika cerita ini telah sampai dihati. kadang aku bertanya dalam hati, kenapa hantaman kekecewaan hanya diakibatkan oleh hal yang sama. kenapa pertanyaan yang merajai kepalaku tidak pernah berganti, kenapa?.
pertanyaan ku tentang masa ataupun gejolak hati ini mungkin tidak akan pernah terjawab sepenuhnya, bila aku masih saja berdamai dengan diriku sendiri. apakah karena aku selalu memaafkan ke-salahpengertian setiap masa yang membiarkanku terbebas ditengah lautan?.
aku tergagap untuk kesekian kalinya, ketika hamparan batu pualam putih memperlihatkan kilauannya dipermukaan. dan tanpa sadar aku mengejar kilauan itu hingga sampai aku meraihnya. tapi, tetap seperti saat sebelumnya, pualam itu telah meredup begitu sampai di tanganku.
kembali aku bertanya, kenapa?.
aku telah salah menilai masa. penilaianku tentang sebuah masa, mungkin sangat tidak umum. padahal bila aku melihat segala sisi dengan tenang, semuanya telah tergambar dengan jelas, dan sekarangpun aku tidak yakin kembali tentang semua ini. tentang segala arah dan tujuan. ataukah aku sudah memburamkan seluruh ceritaku dengan kegalauan dan geliat kegelisahanku?.
hari ini aku kembali kecewa, ketika cerita ini telah sampai dihati. kadang aku bertanya dalam hati, kenapa hantaman kekecewaan hanya diakibatkan oleh hal yang sama. kenapa pertanyaan yang merajai kepalaku tidak pernah berganti, kenapa?.
pertanyaan ku tentang masa ataupun gejolak hati ini mungkin tidak akan pernah terjawab sepenuhnya, bila aku masih saja berdamai dengan diriku sendiri. apakah karena aku selalu memaafkan ke-salahpengertian setiap masa yang membiarkanku terbebas ditengah lautan?.
aku tergagap untuk kesekian kalinya, ketika hamparan batu pualam putih memperlihatkan kilauannya dipermukaan. dan tanpa sadar aku mengejar kilauan itu hingga sampai aku meraihnya. tapi, tetap seperti saat sebelumnya, pualam itu telah meredup begitu sampai di tanganku.
kembali aku bertanya, kenapa?.
